Table of Contents

Declaration of Conscience about Paying for War

Indonesians were one of the first nationalities to translate the Declaration of Conscience about Paying for War, in which residents of the United States join together to declare conscientious objection to paying for war by signing the Declaration on the web. Others are also invited to sign the Declaration on the web in solidarity with U.S. residents and to express interest in a Declaration in one’s own country and language. [Click here to read the English, sign the Declaration or watch a video about the Declaration.]

Friends Peace Teams facilitate workshops in writing statements of conscience and living in accord with our conscience and stand in solidarity with Indonesians who pursue their rights of conscience.

Deklarasi Hati Nurani

12 February 2009

Yang bertanda tangan dibawah ini adalah warga negara dan penduduk Amerika Serikat. Kami menyetujui pernyataan ini sebagai individu yang dilarang oleh hati nurani untuk terlibat dalam perang atau gerakan militer apapun. Pemerintah Amerika Serikat melanggar hak kebebasan hati nurani dengan memaksa kita untk membiayai perang.

Amerika Serikat memakai anggaran tahunan dalam jumlah yang cukup besar untuk pembiayaan militer. Ini termasuk biaya yang dikeluarkan saat ini untuk keterlibatan aktif dalam konflik bersenjata. Dengan membayar pajak pendapatan federal, kami menyumbang secara pribadi dan langsung pada pengeluaran seperti di atas, yang  melanggar hati nurani kami sendiri.

Kami telah merespon dengan berbagai cara. Sebagian dari kami mengambil tindakan dengan mengurangi atau menghilangkan kewajiban membayar pajak kami.

Beberapa orang menahan sebagian atau seluruh kewajiban pajak, mengalihkan pajak untuk tujuan kemanusiaan dan tanpa kekerasan, atau menyimpan uang pajak di rekening wali untuk tujuan non-militer pemerintah.  Beberapa orang menantang kantor-kantor pemerintah federal di pengadilan. Beberapa orang membuat petisi dan kampanye bagi penyesuaian undang-undang. Kami tekankan bahwa kami bersedia membayar semua kewajiban kami secara penuh untuk kepentingan masyarakat sipil. Kami hanya mencoba menjamin agar pajak yang kami bayarkan tidak dipergunakan untuk membiayai perang atau persiapan perang.

Karena keberatan hati nurani, kami mengalami berbagai kesulitan finansial, sangsi administratf dan hukum, penundaan gaji, penyitaan rekening bank dan harta benda, pengurangan pembayaran jaminan sosial hari tua, bahkan pemenjaraan. Namun demikian, inti dari keluhan kami ialah bahwa kami semua pada akhirnya dipaksa untuk membayar pajak untuk keperluan militer, dan kami terus mempunyai kewajiban untuk membayar pajak ini di masa depan. Oleh karena itu, kami sudah diwajibkan, dan masih diwajibkan, yang bertolak belakang dengan hati nurani kami, untuk terlibat dalam pendanaan dan pelaksanaan perang.

Oleh karena itu kami menjadi korban pelanggaran kebebasan berfikir, hati nurani dan beragama, yang, sesuai dengan Artikel 18 Deklarasi Universal HAM, termasuk “…kebebasan, baik sendiri maupun bersama orang lain dan di ranah publik maupun privat, untuk menjalankan … agama atau kepercayaan terhadap ajaran, praktek, ibadah dan ketaatan” Kami berasal dari berbagai latar belakang berbeda dan kami mempunyai kepercayaan moral, etika dan agama yang berbeda. Keyakinan bahwa membiayai perang adalah salah berasal dari berbagai kepercayaan mendasar ini. Kami dihalangi oleh pemerintah untuk menjalankan kepercayaan kami baik dalam praktek maupun dalam ketaatan.

Pelanggaran hati nurani ini sifatnya luas. Penandatangan deklarasi ini hanya beberapa orang dari beribu orang di Amerika Serikat yang telah mengekpresikan keberatan hati nurani mereka terhadap penggunaan pajak mereka untuk pembiayaan militer.

Pelanggaran ini sistematis. Pernyataan tertulis tentang keberatan hati nurani terhadap pajak militer dianggap “tidak masuk akal” oleh pemerintah dan dikenai sangsi hukuman mencapai ribuan dolar. Tuntutan kebebasan hati nurani kami tidak pernah secara penuh dipertimbangkan di tingkatan manapun di dalam pertimbangan administratif maupun hukum, dan kami tidak meihat bahwa pertimbangan seperti ini pernah dilakukan.

Pelanggaran ini besar. Keberatan hati nurani yang kami utarakan kembali menegaskan martabat, nilai dan hak dasar untuk hidup bagi semua orang. Kami dipaksan oleh pemerintah untuk mendukung kekuatan perang yang mematikan, yang bertolak belakang dengan kepercayaan kami yang paling dalam dan suci.

Translated from the English by Andreas Subiyono, Rina Wijaya, Suryono and Timotius Apriyanto