Table of Contents

Nanik, Central Java, Indonesia (Bahasa Indonesia)

Halo Teman-teman,

Saya Nanik, lahir tanggal 26 November 1972, menikah dan mempunyai dua anak laki-laki. Anak  pertama bernama Wiji Prasetya Jati, biasa dipanggil Wiwit, yang berumur 16 tahun. Dia sekolah kelas 1 Sekolah Menengah Musik di Yogyakarta. Anak kedua bernama Dwi Surya Saputra, biasa dipanggil Tito. Saat ini, dia kelas 5 SD. Suami saya, Petrus, berusia 46 tahun, bekerja di Yayasan Sheep Indonesia, sebuah Lembaga non-pemerintah yang berkantor di Jogja (Dari Pati ke Jogja kira-kira 180 km.) Saya tinggal di Pati, Jawa Tengah, sebuah kota kecamatan ke arah timur dari Semarang, Indonesia.

Kegiatan saya mendampingi anak di PAUD Joglo mulai Senin sampai Kamis jam 06.45 – 13.00 termasuk persiapan, pendampingan anak dan rapat guru. Jam 14.00 – 17.00, saya mendampingi anak usia SD – SMP agar dapat membelajar bahasa Inggris. Bersama team di Peace Place mulai Agustus 2013 merancang pengembangan alternative pendidikan bagi anak usia SD dan SMP dengan mendasarkan pada hidup tanpa kekerasan.

Saya mengenal Hidup Tanpa Kekerasan (HTK) dari suami saya, Petrus, dan ikut kegiatan pelatihan Hidup Tanpa Kekerasan pertama kali tahun 2008. Saya semakin terpanggil menjadi bagian orang yang berinisiatif mengembangkan damai dimanapun dan memperkenalkan kegiatan pelatihan HTK kepada saudara, teman, murid dan wali murid karena keadaan damai dan keluar dari kebiasaan hidup dengan kekerasan dibutuhkan disekolah, dirumah dan dimasyarakat.

Bersama Petrus, kami memutuskan membangun tempat kegiatan agar dapat membangun spirit belajar dan pendampingan dengan harapan bahwa banyak orang bisa belajar keluar dari kebiasaan kekerasan yang selalu ditemui dalam kegiatan sehari-hari di rumah, di sekolah dan di lingkungan. Pertemuan dengan banyak orang, sharing dengan teman-teman Tim Perdamaian Sehabat yang hidup untuk kedamaian, keadilan, penyembuhan trauma dan pendidikan memberi arti menguatkan hidup saya ternyata damai. Itu harus diwujudkan dan dapat dinyatakan disemua tempat.

Dalam pertemanan, saya lebih menghargai perbedaan pendapat. Saya belajar mendengar dan meminta masukan. Saya menyadari bahwa semua orang, termasuk anak paling kecil, sekalipun mempunyai kelebihan yang saya harus belajar dari mereka.

Nanik