Table of Contents

Nadine Hoover, Alfred, NY A.S. (Bahasa Indonesia)

Aku tinggal di rumah yang dibangun dengan kayu dari lahan bapakku. Secara gotong royong hampir 200 orang membantu membangunnya supaya Nadine dibebaskan untuk pergi ke Aceh setelah tsunami. Anakku dua-duanya sudah dewasa dan kadang-kadang tinggal dirumahku. Ada tiga orang lain, dua yang baru mulai kerja tetapi belum berkeluarga dan satu yang sedang kuliah, yang tinggal dirumahku dan menjaga rumah saat Nadine ke Jawa, Sumatra dan Aceh.

Saya bekerja di salon sebagai tukang pijit, membantu orang yang sakit, strok, kanker, dll. Jeanne, yang punya salon, memang orang yang sanggat baik dan sangat mendukung kegiatan-kegiatan kita di Indonesia. Dia menjual tas Aceh di depan salon untuk mengumpulkan dana; dia tidak memotong sama sekali tetapi kirim 100 percent untuk karcis Nadine kembali ke Indonesia, juga kempul barang-barang untuk kelompok bermain anak and kebutuhan lain-lain. Langganan Nadine juga mendukung. Katanya pergi untuk membantu orang lain hanya jangan lupa kembali untuk jaga kami juga. Saya dekat dengan keluarga besar termasuk satu kakak laki-laki yang punya anak satu, satu adik perempuan yang punya anak empat dan orang tuaku.

Paling penting bagai Nadine adalah menjaga keiklasan, kejujuran, sayang, keterbukaan, ketekunan, kerajinan, dan keadilan antara orang-orang dan sama bumi yang diciptakan oleh Allah untuk kita menjaga dan menikmati. Saya orang yang tidak bisa membunuh orang lain atau mendukung perang atau kekerasan. Aku berjuang supaya orang punya hak berdasar keyakinan agama atau hati nurani untuk menolak pembayaran pajak perang dan akhirnya perang menjadi hal diluar hukum internasional. Aku juga mencari kebutuhan rumah sehari-hari dari hasil lingkungan sekitar, dari pada dari hasil perusahan besar. Saya menanam kebun untuk rumah. Aku menerima tidak bisa hidup 100 percent sesuai kepercayaanku, tetapi setiap hari aku berusaha prilakuku mangkin lama mangkin dicocokan.

Nadine membangun perdamaian di rumah dan sekitar melalui melatih hidup tanpa kekarasan dengar diri sendiri dan orang. Aku menjadi pelatih hidup tanpa kekerasan dan instructor karate supaya secara nyata aku kenal kekerasan dan tidak kaget atau takut saat harus menghadapinya. Saya bermain sama-sama dan perduli perkembangan anak-anak, perhatikan kesulitan keluarga dan tetangga, belajar cara-cara untuk sembuh dari trauma dan sering mendengarkan cerita kesusaan dan kesenanggan orang lain dan berbagai pengalaman hidup sendiri.

Untuk mendukung perkembangan lingkunganku saya sering mengikuti kegiatan gotong-royong dan di salon berbagai banyak informasi tentang kesemptan untuk saling menolong, misalnya kapan ada orang sakit yang perlu makanan di rumah atau bantuan lain dan kapan ada ketidakadilan dan bagaimana kami berjuang untuk betulkan. Aku masuk penjara untuk berteman sama orang dalam dan mendukung teman-teman saat berusaha hidup sesudah keluar dari penjara.

Yang saya paling mengarap dan menghargai dalam teman adalah kejuruan, kesederhanaan, keingintahuan dan semangat hidup. Saya paling mendapat arti dan harapan dalam hidup ini dari nafas setiap hari dan setiap kali nafas merasa tuhan mengasih hidup ini bebas, saya terima apa yang ada dan berusaha mencari kesenangan hidup dengan sebanyak mungkin teman-teman.

 

2011