Table of Contents

Petrus, Pati, Java, Indo (Bahasa Indonesia)

Petrus adalah sebuah nama yang diberikan orang tua yang melahirkan aku. Pada seluruh dokumenku saya tercatat lahir pada 6 April 1968. Saya merupakan anak nomer 7 dari 8 bersaudara yang terdiri dari 7 kaki-laki dan 1 perempuan. Saat ini saya tinggal dengan Nanik (istri) umur 40 tahun, dan anak yaitu Wiji Prasetya Jati dipanggil Wiwit umur 14 tahun, Dwi Surya Saputra umur 9 tahun biasa dipanggil Tito, sedangkan anak ketiga saya telah dipanggil Tuhan ketika umur 6 hari.

 

Saya bekerja di Yayasan Sheep Indonesia yaitu sebuah yayasan yang bekerja untuk kegiatan social di masyarakat berkantor di Jogjakarta sekitar 200 km dari rumah saya yang ada di Pati. Pada Pebruari 2005 oleh lembaga, saya ditugaskan ke Aceh yang waktu itu terkena tsunami dan juga memiliki persoalan besar akibat konflik yang terjadi antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Republik Indonesia. Dalam proses pendampingan saya mengenal Nadine Hoover yang waktu itu bekerja di AFSC yang salah satunya mensuport kegiatan Yayasan Sheep di Aceh. Melalui beliau, saya pertama kali mengenal bagaimana membangun hati nurani melalui pelatihan Hidup tanpa kekerasan yaitu pada bulan Agustus 2005,  yang selanjutkan bersama-sama teman di Aceh dan Nadine Hoover saya mulai terlibat dalam pengembangan pelatihan HTK di Aceh Timur, Sigli dan Sumatra Utara. Saya merasakan bahwa membangun hati nurani dibutuhkan oleh semua orang tidak hanya di Aceh yang mengalami konflik, di Jawa pun banyak persoalan dengan kekerasan dan bahkan secara khusus berharap saya dan  keluarga mampu lebih dalam mengenal pengembangan hati nurani dan mempraktekannya dalam tindakan keseharian di keluarga,  sehingga pada tanggal 16 s.d 18 Oktober 2008 saya mengajak  Fery (Aceh), Sera (FPT) melakukan pelatihan pertama kali di Pati, Jawa Tengah yang diikuti oleh 15 orang termasuk 3 orang tim pelatih dan istri saya (Nanik).

Saya dan Nanik merasakan bahwa gerakan hati nurani ini sangat baik untuk dikembangkan disekitar lingkungan kami sehingga Saya dan Nanik berpikir dan bertekat bersama dengan FPT mulai bulan April 2011 berproses membuat sebuah tempat untuk menyelenggarakan latihan. Pada awalnya akan meminjam sebuah lokasi tanah disekitar perumahan saya tetapi dengan pertimbangan keberlangsungannya akhirnya memutuskan di lokasi milik sendiri walaupun agak jauh dari rumah. Bangunan yang didirikan mengambil model bangunan rumah tradisional Jawa Tengah yaitu Joglo dan  berdasar kesepakatan kita beri nama “Peace Place”. Pada 18 Juni 2011 tempat tersebut telah digunakan pertama kali untuk pelatihan. Sampai saat ini telah ada 5 orang tim pelatih di Peace Place yaitu  Petrus, Nanik, Sunhadi, Mira, Ninok dan beberapa orang yang ikut magang Zumrotun , Sholikah, Retno, Utami, Yayuk,.

Selain sebagai tempat untuk perlatih pengembangan hati nurani di Peace Place digunakan untuk belajar bahasa inggris, matematika, ilmu pengetahuan alam bagi anak usia Sekolah Dasar (SD) yang dilakukan setiap hari senin sampai kamis mulai jam 12.30 – 17.00. Bahkan sejak Juli 2012 telah dibuka secara khusus untuk pendidikan anak usia dini yang didasari oleh prinsip pengembangan hati nurani dilakukan setiap senin s.d kamis mulai jam 07.30 sampai 10.30, saat ini ada 9 anak yang mengikutinya.

Kehadiran kegiatan yang didasari dengan pengembangan hati nurani memberi semangat untuk selalu lebih peduli pada sesama, bahkan pengalaman mengembangkan metode ini mengajari pada saya untuk selalu berefleksi dan selalu berusaha bagaimana membangun tatanan kehidupan yang damai yang dimulai dari diri dan keluarga. Saat ini saya dan keluarga masih berproses dan  belajar dalam hidup yang didasari oleh pengembangan hati nurani, banyak hal yang menjadi tantangan dalam mewujudkannya terutama dalam mendampingi anak. Saya dan keluarga masih harus banyak belajar berani membuat keputusan, pilihan. Saya meyakini bahwa apa yang saat ini saya kembangkan akan sangat berguna dan mampu memaknai keluarga dan lingkungan di sekitar saya. Hal ini bisa dibuktikan oleh adanya pengakuan dari setiap orang yang pernah ikut berlatih Hati Nurani selalu mengatakan bahwa ini metode baru dan membuat orang lebih percaya diri, terbuka, memahami diri, keluar dari trauma kekerasan dan memahami makna hidup. Ada satu cerita yang menarik yang diceritakan oleh Tirsa tentang Dafa anak PAUD Joglo. Menurut Tirsa (tetangga Dafa, seorang ibu yang memiliki anak usia 2,5 th, pernah menjadi guru TK di Jakarta)  Dafa adalah seorang anak yang saat ini umurnya sekitar 4,5 th,  yang sebelum masuk PAUD Joglo di Peace Place sangat dikenal di lingkungan perumahan sebagai anak yang mempunyai stigma nakal sebab selalu membuat keonaran, bertengkar dengan anak-anak kecil dilingkungannya, berkelakukan keras & brutal terhadap anak lain, tetapi setelah masuk di PAUD JOGLO Peace Place anak tersebut berubah total saat ini dia mampu mendampingi anak-anak kecil lainnya dalam bermain, berbagi mainan, mendampingi lebih dewasa. Melihat perubahan ini Tirsa penasaran dan bertanya pada orang tua Dafa, dari proses tersebut Tirsa datang ke Peace Place  dan bertanya tentang perkembangan & problem anak dan dia juga cerita tentang perubahan Dafa. Oleh teman-teman di Peace Place diberi informasi tentang dasar pendampingan dengan hati nurani, dengan penjelasan tersebut akhirnya dia memutuskan untuk mendaftar dan ikut pelatihan yang saat ini sedang berlangsung yaitu 17 Desember s.d 19 Desember 2012 yang diikuti oleh 17 peserta , 11 orang diantaranya peserta baru. Cerita-cerita perubahan banyak dialami oleh 9 anak yang belajar di PAUD Joglo yang diceritakan oleh orang tua anak. Pengalaman ini semakin menguatkan teman-teman tim di PP dan saya sendiri.

Perjuangan masih panjang sebab tantangan pola kehidupan disekitar juga semakin kuat, saya berharap dukungan doa secara khusus untuk keluarga saya agar mampu banyak belajar dengan hati Nurani dan apa yang sudah mulai kami rintis dengan tim di Pati akan semakin kuat, saya yakin pasti ini akan terjadi, terimakasih untuk FPT yang telah mengenalkan kami sekeluarga dengan Hati nurani terutama untuk Nadine Hoover yang tetap setia mendorong dan mengajari saya untuk berani mengambil keputusan, terimakasih.

 

2013